Para Wanita Di Cina Yang "tak Diinginkan"





Xu, seorang wanita cantik berusia 30an, berjalan lemas ke klab lajang Beijing untuk melepas statusnya sebagai salah satu dari wanita "Tak Diinginkan" di Cina.

Sudah lebih dari setahun Xu tidak datang ke "Garden of Joy", nama klab tersebut. Tetapi dengan waktu yang semakin sempit dan penilaian masyarakat yang membebani, Xu kembali ke klab tersebut dengan penuh harapan.

"Saya berharap bisa menemukan suami," kata dia sambil duduk di depan meja Mahjong dan menunggu kencannya untuk malam itu. Pasangan kencan dipilihkan untuk dia oleh klab berdasarkan profil masing-masing mereka.

"Saya hanya ingin seseorang untuk berbagi minat yang sama, tapi dalam situasi keuangan yang lebih baik dari saya."

Xu, yang tak memberi nama lengkapnya untuk artikel ini, adalah salah satu yang disebut "Sheng Nu" di Cina.

"Sheng Nu" atau diterjemahkan menjadi "Yang Tidak Diinginkan" adalah fenomena baru di masyarakat Cina yang terjadi pada ratusan ribu wanita, terutama mereka yang tinggal di perkotaan, berpendidikan, dan mandiri secara keuangan.

Istilah tersebut hanya ada di Cina dan untuk wanita, kemudian muncul di kamus resmi Cina dan merujuk pada, "semua wanita lajang di atas usia 27."

Summer yang berusia 26 berada di Garden of Joy untuk pertama kalinya. Ia berusaha untuk bertemu seorang pria sebelum sampai pada usia 27.



"Tidak ada hal di dunia ini yang menghalangi saya jadi Sheng Nu," kata Summer. Ia juga menyesalkan bahwa banyak pria di Cina yang merasa sangat penting buat pasangannya memiliki wajah muda.

"Para pria tidak ingin wanita di atas usia 30. Sangat penting buat mereka bahwa si wanita masih cantik."

Survey yang disebarluaskan pada 2010 dan diberitakan secara luas oleh Federasi Perempuan Cina membuktikan bahwa fenomena sosial ini benar ada.

Survey tersebut menunjukkan bahwa ada 180 juta wanita dan pria lajang di Cina -- dari 1,3 miliar penduduk -- dan 92 persen pria percaya bahwa wanita harus menikah sebelum mencapai usia 27.

Semenjak itu, banyak buku-buku dan film-film yang membahas tema tersebut. Majalah-majalah wanita juga ikut mencari jawaban kenapa begitu banyak perempuan kini melajang.

"Di satu sisi, orang muda kini bekerja sangat keras dan tidak memiliki banyak tempat di luar tempat kerja untuk saling bertemu, dan ini belum pernah terjadi sebelumnya di Cina," kata Wu Di, seorang sosiolog yang sudah menerbitkan buku soal fenomena wanita "Tak Diinginkan" ini kepada AFP.

"Di sisi lain, tradisi Cina mengatakan bahwa kita harus "menerima" saat menikah. Pernikahan di masa lalu tidak pernah berarti kebahagiaan. Sementara generasi baru perempuan kini tidak mau "menerima". Banyak yang hidup bahagia sendiri dan mereka tidak mengerti kenapa harus menurunkan standar kehidupan atau kebahagiaan untuk menikah."

Meski begitu, tekanan bagi perempuan di Cina sangat besar.



Salah satu penyebabnya adalah kebijakan satu anak di Cina yang menambah keputusasaan para orangtua agar anak-anak mereka segera menikah dan melahirkan cucu.

"Alasan saya sebenarnya datang ke klab ini adalah saya tidak ingin mengecewakan orangtua. Saya ingin membahagiakan mereka," tambah Xu.

Slogan yang dipasang Garden of Joy juga memainkan emosi ini untuk menarik anggota. "Apakah kamu lajang? Pikirkan perasaan ayah/ibumu. Jangan membuat mereka khawatir," kata salah satu tulisan yang terpampang di pintu masuk.

Dan bisnis klab lajang di Cina sangat laku.

Klab ini baru buka pada 2003 dan memiliki dua lokasi di Beijing dengan lebih dari 12 ribu anggota.

Tetapi, setelah menggunakan rasa takut untuk menarik wanita, Garden of Joy menawarkan atmosfer yang ramah dengan berlokasi di lantai bawah tanah pusat bisnis elite, tempat para wanita bisa bertemu dengan calon-calon suami mereka. Ada 80 pilihan kegiatan yang bisa mereka lakukan bersama, termasuk tenis meja, biliar, permainan papan, nonton film, dan kencan kilat. Ada juga tur pendakian yang bisa diambil oleh para calon pasangan ini.

Klab ini juga memiliki tempat-tempat duduk yang lebih privat, tempat para pasangan bisa bertemu dan saling mengenal dengan lebih dekat.

Shelly, 34, salah satu konsultan humas yang sangat berpendidikan dan baru kembali dari hidup di Amerika Serikat termasuk anggota baru klab lajang itu.

Sejak kembali ke Cina, Shelly sudah menghindar dari kerabatnya dan bahkan beberapa teman dekat karena kengototan mereka mengatur kencan buat dia.

"Saya mendapat tekanan dari berbagai pihak. Saya merasa ibu saya kecewa dan sedih saat dia melihat cucu teman-temannya," kata Shelly.

Tetapi, dengan ketiadaan pasangan, Shelly kini bersiap untuk kembali ke AS untuk mengambil gelar pasca-sarjananya yang kedua -- keputusan yang dia ambil untuk kabur dari kolega, orangtua, dan teman-temannya.

"Saya rasa saya akan kembali ke Cina saat sudah berusia 40. Saat ini saya hanya ingin menjadi sangat tua, sangat rusak, sehingga mereka tidak memedulikan saya lagi."

Follow On Twitter